MULIAMAKASSAR,COM:
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bukanlah jarak yang dekat. Apa lagi membawa jenazah melintasi laut dan pulau, tentunya memerlukan biaya pengurusan dokumen, peti jenazah, yang tidak murah. Bagi keluarga yang kurang mampu, angka tersebut seringkali menjadi mimpi buruk kedua setelah kehilangan sosok yang dicintai.
Namun, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar dengan sigap bertindak dan tanpa melihat latar belakang suku, warna kulit, atau keyakinan, berdiri di garis depan memastikan setiap jiwa mendapatkan penghormatan terakhir yang layak.
Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan, BAZNAS Kota Makassar, Yusran Sofyan, SE, S.Kom, M.Si, usai menyerahkan sejumlah yang diterima suami almarhumah, Ibrahim Pua Umar, Jumat, 17 Juli, pagi tadi mengemukakan, bantuan yang diberikan tidak dilihat dari jumlah, melainkan bagaimana lembaga pemerintah nonstruktural beralamat di Jalan ;Teduh Bersinar No 5 Makassar itu mengedepankan kepedulian, sekaligus cerminan dari nilai nilai agama yang sekat sekat primordial.
Bagi BAZNAS Makassar, jelas Alumni S1 STIM LPI Makassar dan aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Selatan ini, bantuan sedikit biaya pemulangan jenazah almahumah Ramlan ke kampung halamannya, adalah sebuah narasi tentang cinta kasih. Ini adalah pengingat bahwa, di balik setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan masyarakat Islam di kota yang kini dipimpin Walikota Munafri Arifuddin dan Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham ini, terdapat nyawa yang diringankan bebannya, dan martabat manusia yang dijaga.
“Membantu sesama, tidak lagi memandang dari mana dia berasal. Seperti pepatah bijak, “Tangan yang memberi lebih MULIA daripada tangan yang menerima. Dan, BAZNAS Makassar telah membuktikan bahwa dengan zakat, infak, dan sedekah kita bisa melihat kembali harapan di tengah duka. Artinya, kehadiran BAZNAS Makassar sangat berdampak bagi masyarakat Islam,” tutup pria berlatar belakang di bidang teknologi ini didampingi Kabag II dan staf Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan (Nabil Salim dan H.Arifuddin) dan tim media (Syarifuddin Pattisahusiwa).
Setiap rupiah yang dikelola BAZNAS Makassar seolah-olah bertransformasi menjadi “tiket pulang” bagi mereka yang ingin dimakamkan di tanah kelahirannya. Ada air mata haru yang tertahan saat keluarga melihat peti jenazah. Di sana, di antara kesedihan yang mendalam, terselip rasa syukur yang tak terhingga, karena masih ada lembaga yang peduli ketika dunia terasa begitu dingin. (din pattisahusiwa/tim media baznas makassar)